TASIK – Kasus pembunuhan Rina Rabain (20) kian terang benderang. Motif pembunuhan itu asmara. Jat (22), pria yang membawa jasad perempuan asal Sumedang itu marah, karena perempuan yang dicintainya akan menikah dengan orang lain.
Versinya, Rina akan menikah dengan Iman (22), teman satu pekerjaan dengan mereka di pabrik sparepart di Cikarang, Bekasi. “Dulu memang mereka (Rina dan Iman, Red) hubungan, terus putus, tiba-tiba ngajak nikah,” ujarnya di Mapolres Tasikmalaya Kota kemarin (17/11).
Senin (16/11) subuh, mereka kemudian cekcok soal Rina yang akan menikah. Konflik itu terjadi di kontrakan Rina di Cikarang. Saat itu subuh. Menurut Jat, Rina menamparnya. Kemudian pria asal Blora, Jateng itu membalasnya. Dia mendorong pundak perempuan lulusan SMAN 1 Tanjungsari, Sumedang itu. Rina tak diam. Dia melemparkan toples ke arah Jat. Pertengkaran semakin memanas hingga pria berambut ikal itu mencekik leher Rina hingga tersengal-sengal.
Pengakuannya, saat itu Rina tidak langsung meninggal. Dia sempat berpindah tempat dari ruang tengah ke kamar. Kemudian berbaring di atas kasur. Sekitar 15 sampai 20 menit kemudian perempuan berkulit putih itu tidak terdengar lagi menangis. “Pas mau pamit pulang, dia nggak gerak,” alibinya.
Jat pun panik. Dia kemudian membawa tubuh perempuan yang juga kekasih temannya itu ke dalam mobil rental, Honda Mobilio. Dia menggendongnya. Alibi lainnya, Jat mengaku bingung yang menjadi penyebab kematian perempuan yang dianggapnya kekasih itu. Karena sesudah dicekiknya, Rina masih bisa menangis dan berjalan.
Kemarin, keluarga Rina datang ke Kota Tasikmalaya. Mereka melihat jenazah perempuan muda itu di kamar mayat Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr Soekardjo, Kota Tasikmalaya. Kepada Radar, paman korban, Darwat mengatakan bahwa Jat bukanlah pacar Rina. Jat tak lebih hanya sebatas teman. Namun, memang, Jat pernah mengungkapkan rasa cintanya kepada korban. ”Namun Rina menolak karena dirinya sudah dilamar oleh pacarnya yang bernama Iman,” jelasnya kepada Radar kemarin (17/11).
Jat, Iman dan Rina, kata Darwat, bekerja sebagai karyawan di sebuah perusahaan sparepart yang sama di Cikarang, Bekasi. ”Keponakan saya itu kerja ikut dengan pacarnya. Nah dari sana dia kenalan sama Jat. Iman adalah teman dekatnya Jat,” jelasnya. Setelah lulus dar SMAN 1 Tanjungsari, Rina langsung bekerja. Dia tidak meneruskan studinya.
Jat sempat bermain ke rumah orang tua Rina di Kampung Jatiroke RT 03 RW 05 Desa Jatiroke Kecamatan Jatinangor Kabupaten Sumedang. Dia bersilaturahmi. ”Datang pada tanggal 30 Oktober (2015) hari Jumat kemudian pergi ke Majalengka ke rumahnya Iman,” jelasnya.
Menurutnya, Jat sudah kenal betul dengan ibu korban, Sulaeha (45). Saat berkunjung ia sempat diingatkan ayah Rina, Ramlan (50) bahwa putri keduanya itu akan segera menikah. ”Katanya kalau berteman boleh saja,” jelas Darwat, menirukan ucapan ayah Rina, Ramlan.
Rina berpacaran dengan Iman sekitar dua tahun lamanya. ”Rencanananya dia akan menikah pada tanggal 13 Januari mendatang,” jelasnya.
Keduanya dan pihak keluarga sudah mempersiapkan pernikahan. Bahkan, menurut dia, mereka sudah melakukan pre wedding. ”Sudah dipersiapkan segala sesuatunya,” katanya. Rina merupakan anak kedua dari empat bersaudara. Dia mempunyai kakak perempuan yang sudah menikah dengan orang Majalengka dan dua adik kembar laki-laki.
** Tunggu Otopsi
Kemarin, Polsek Cikarang Selatan datang ke Mapolres Tasikmalaya Kota untuk mengungkap kasus tersebut. Kanit Reskrim Polsek Cikarang Selatan AKP Arief Yuni Purwanto SH MH mengatakan keterangan Jat soal penyebab dan proses meninggalnya Rina belum bisa dipastikan kebenarannya. Pihaknya akan mencari keterangan-keterangan lain, termasuk hasil otopsi. “Dari situ (hasil otopsi) kita bisa tahu waktu dan penyebab kematiannya,” terangnya di Mapolres Tasikmalaya Kota kemarin.
Pihaknya sudah mengkoordinasikan kepada keluarga Rina untuk membuat laporan terkait dugaan penganiayaan Rina hingga meninggal dunia. Dia sudah menyiapkan pasal 351 tentang penganiayaan yang mengakibatkan korban meninggal. “Nanti kalau sudah kuat, langsung kita tetapkan jadi tersangka,” ujarnya.
Sebelumnya diberitakan Radar, kasus besar terungkap di Tasikmalaya Senin (16/11). Polres Tasikmalaya Kota mengungkap kasus pembunuhan. Keberhasilan itu berkat kejelian petugas pemakaman Cinehel, kamar mayat RSUD dan polisi.
Awalnya, seorang pria, berinisial Jat (22) datang ke Kota Tasikmalaya sambil membawa mayat perempuan muda dari Cikarang Utara. Dia membawa jasad perempuan yang menggunakan sweater abu dengan bawahan mukena itu menggunakan mobil Honda Mobilio putih. Perempuan berusia sekitar 20 tahun itu diakuinya sebagai adik angkatnya. Namanya Rina. (Padahal dalam pengakuan berikutnya kepada polisi, mayat tersebut adalah pacarnya)
Petugas Kamar Mayat Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr Soekardjo, Kota Tasikmalaya Asep mengatakan Jat yang mengaku asal Kabupaten Blora Jawa Tengah tadinya akan mengubur Rina di Tempat Pemakaman Umum Cinehel, Cipedes, Kota Tasikmalaya. ”Katanya ia berangkat dari Cikarang sekitar jam 10 pagi kemudian sampai di Pemakaman Cinehel sekitar pukul setengah satu siang,” jelasnya kepada Radar saat ditemui di Ruang Jenazah RSUD dr Soekardjo kemarin (16/11).
Keinginan Jat menguburkan Rina di Cinehel ditolak petugas di sana. Alasannya, dia tidak membawa surat keterangan atau pengantar soal mayat itu dari rumah sakit atau kepolisian. ”Kemudian dari pihak Cinehel menelepon ke saya. Katanya ada yang mau menguburkan mayat tapi ditolak gara-gara tidak ada surat pengantar, terus belum dibungkus kain kafan dan memakai mobil pribadi. Saya pun kaget,” jelasnya.
Kemudian Asep memerintahkan petugas Cinehel untuk mengarahkan Jat ke RSUD dan membawa mayat tersebut. “Dia (Jat, Red) juga sempat menelepon saya katanya, ’Gimana ini Pak’, lalu saya suruh dia ke rumah sakit,” ujarnya.
Ketika sampai di rumah sakit, Jat, kata Asep langsung membuka bagian belakang mobil Honda Mobilio berplat nomor B 1896 FOK –yang dikemudikan Jat. ”Ketika di dalam saya lihat ada mayat perempuan kebawahnya pakai mukena keatasnya pakai sweater warna abu,” ujarnya.
Saat itu pula Asep mendapat keterangan langsung dari Jat bahwa ia disuruh ibunya untuk menguburkan adik angkatnya itu (Rina) di Kota Tasikmalaya karena sang adik lahirnya di Tasikmalaya.
Mendengar keterangan seperti itu Asep tidak mau bertindak gegabah. Ia memilih menghubungi Tim Identifikasi Satreskrim Polres Tasikmalaya Kota. Dia meminta agar mereka segera datang ke rumah sakit. Meski demikian, mayat itu tetap dimandikannya. Saat itu ditemukan bekas cekikan di tenggorokan dan sundutan puntung rokok di punggung. Hal itu menimbulkan kecurigaan begitu besar di benak Asep.
Tim Identifikasi Satreskrim Polres Tasikmalaya yang telah datang ke rumah sakit, lalu memeriksa Jat. Mereka mencecar pria berkulit gelap itu dengan beragam pertanyaan. Namun dengan tenang, Jat keukeuh mengaku bahwa dia adalah kakak ipar si mayat itu. ”Ngakunya dia kerja di sebuah perusahaan swasta,” ungkap Asep. Hingga kemudian, Senin malam, dia mengaku mencekik Rina hingga kemudian tewas. (rga/den)
Sumber : Radar Tasikmalaya
Versinya, Rina akan menikah dengan Iman (22), teman satu pekerjaan dengan mereka di pabrik sparepart di Cikarang, Bekasi. “Dulu memang mereka (Rina dan Iman, Red) hubungan, terus putus, tiba-tiba ngajak nikah,” ujarnya di Mapolres Tasikmalaya Kota kemarin (17/11).
Senin (16/11) subuh, mereka kemudian cekcok soal Rina yang akan menikah. Konflik itu terjadi di kontrakan Rina di Cikarang. Saat itu subuh. Menurut Jat, Rina menamparnya. Kemudian pria asal Blora, Jateng itu membalasnya. Dia mendorong pundak perempuan lulusan SMAN 1 Tanjungsari, Sumedang itu. Rina tak diam. Dia melemparkan toples ke arah Jat. Pertengkaran semakin memanas hingga pria berambut ikal itu mencekik leher Rina hingga tersengal-sengal.
Pengakuannya, saat itu Rina tidak langsung meninggal. Dia sempat berpindah tempat dari ruang tengah ke kamar. Kemudian berbaring di atas kasur. Sekitar 15 sampai 20 menit kemudian perempuan berkulit putih itu tidak terdengar lagi menangis. “Pas mau pamit pulang, dia nggak gerak,” alibinya.
Jat pun panik. Dia kemudian membawa tubuh perempuan yang juga kekasih temannya itu ke dalam mobil rental, Honda Mobilio. Dia menggendongnya. Alibi lainnya, Jat mengaku bingung yang menjadi penyebab kematian perempuan yang dianggapnya kekasih itu. Karena sesudah dicekiknya, Rina masih bisa menangis dan berjalan.
Kemarin, keluarga Rina datang ke Kota Tasikmalaya. Mereka melihat jenazah perempuan muda itu di kamar mayat Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr Soekardjo, Kota Tasikmalaya. Kepada Radar, paman korban, Darwat mengatakan bahwa Jat bukanlah pacar Rina. Jat tak lebih hanya sebatas teman. Namun, memang, Jat pernah mengungkapkan rasa cintanya kepada korban. ”Namun Rina menolak karena dirinya sudah dilamar oleh pacarnya yang bernama Iman,” jelasnya kepada Radar kemarin (17/11).
Jat, Iman dan Rina, kata Darwat, bekerja sebagai karyawan di sebuah perusahaan sparepart yang sama di Cikarang, Bekasi. ”Keponakan saya itu kerja ikut dengan pacarnya. Nah dari sana dia kenalan sama Jat. Iman adalah teman dekatnya Jat,” jelasnya. Setelah lulus dar SMAN 1 Tanjungsari, Rina langsung bekerja. Dia tidak meneruskan studinya.
Jat sempat bermain ke rumah orang tua Rina di Kampung Jatiroke RT 03 RW 05 Desa Jatiroke Kecamatan Jatinangor Kabupaten Sumedang. Dia bersilaturahmi. ”Datang pada tanggal 30 Oktober (2015) hari Jumat kemudian pergi ke Majalengka ke rumahnya Iman,” jelasnya.
Menurutnya, Jat sudah kenal betul dengan ibu korban, Sulaeha (45). Saat berkunjung ia sempat diingatkan ayah Rina, Ramlan (50) bahwa putri keduanya itu akan segera menikah. ”Katanya kalau berteman boleh saja,” jelas Darwat, menirukan ucapan ayah Rina, Ramlan.
Rina berpacaran dengan Iman sekitar dua tahun lamanya. ”Rencanananya dia akan menikah pada tanggal 13 Januari mendatang,” jelasnya.
Keduanya dan pihak keluarga sudah mempersiapkan pernikahan. Bahkan, menurut dia, mereka sudah melakukan pre wedding. ”Sudah dipersiapkan segala sesuatunya,” katanya. Rina merupakan anak kedua dari empat bersaudara. Dia mempunyai kakak perempuan yang sudah menikah dengan orang Majalengka dan dua adik kembar laki-laki.
** Tunggu Otopsi
Kemarin, Polsek Cikarang Selatan datang ke Mapolres Tasikmalaya Kota untuk mengungkap kasus tersebut. Kanit Reskrim Polsek Cikarang Selatan AKP Arief Yuni Purwanto SH MH mengatakan keterangan Jat soal penyebab dan proses meninggalnya Rina belum bisa dipastikan kebenarannya. Pihaknya akan mencari keterangan-keterangan lain, termasuk hasil otopsi. “Dari situ (hasil otopsi) kita bisa tahu waktu dan penyebab kematiannya,” terangnya di Mapolres Tasikmalaya Kota kemarin.
Pihaknya sudah mengkoordinasikan kepada keluarga Rina untuk membuat laporan terkait dugaan penganiayaan Rina hingga meninggal dunia. Dia sudah menyiapkan pasal 351 tentang penganiayaan yang mengakibatkan korban meninggal. “Nanti kalau sudah kuat, langsung kita tetapkan jadi tersangka,” ujarnya.
Sebelumnya diberitakan Radar, kasus besar terungkap di Tasikmalaya Senin (16/11). Polres Tasikmalaya Kota mengungkap kasus pembunuhan. Keberhasilan itu berkat kejelian petugas pemakaman Cinehel, kamar mayat RSUD dan polisi.
Awalnya, seorang pria, berinisial Jat (22) datang ke Kota Tasikmalaya sambil membawa mayat perempuan muda dari Cikarang Utara. Dia membawa jasad perempuan yang menggunakan sweater abu dengan bawahan mukena itu menggunakan mobil Honda Mobilio putih. Perempuan berusia sekitar 20 tahun itu diakuinya sebagai adik angkatnya. Namanya Rina. (Padahal dalam pengakuan berikutnya kepada polisi, mayat tersebut adalah pacarnya)
Petugas Kamar Mayat Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr Soekardjo, Kota Tasikmalaya Asep mengatakan Jat yang mengaku asal Kabupaten Blora Jawa Tengah tadinya akan mengubur Rina di Tempat Pemakaman Umum Cinehel, Cipedes, Kota Tasikmalaya. ”Katanya ia berangkat dari Cikarang sekitar jam 10 pagi kemudian sampai di Pemakaman Cinehel sekitar pukul setengah satu siang,” jelasnya kepada Radar saat ditemui di Ruang Jenazah RSUD dr Soekardjo kemarin (16/11).
Keinginan Jat menguburkan Rina di Cinehel ditolak petugas di sana. Alasannya, dia tidak membawa surat keterangan atau pengantar soal mayat itu dari rumah sakit atau kepolisian. ”Kemudian dari pihak Cinehel menelepon ke saya. Katanya ada yang mau menguburkan mayat tapi ditolak gara-gara tidak ada surat pengantar, terus belum dibungkus kain kafan dan memakai mobil pribadi. Saya pun kaget,” jelasnya.
Kemudian Asep memerintahkan petugas Cinehel untuk mengarahkan Jat ke RSUD dan membawa mayat tersebut. “Dia (Jat, Red) juga sempat menelepon saya katanya, ’Gimana ini Pak’, lalu saya suruh dia ke rumah sakit,” ujarnya.
Ketika sampai di rumah sakit, Jat, kata Asep langsung membuka bagian belakang mobil Honda Mobilio berplat nomor B 1896 FOK –yang dikemudikan Jat. ”Ketika di dalam saya lihat ada mayat perempuan kebawahnya pakai mukena keatasnya pakai sweater warna abu,” ujarnya.
Saat itu pula Asep mendapat keterangan langsung dari Jat bahwa ia disuruh ibunya untuk menguburkan adik angkatnya itu (Rina) di Kota Tasikmalaya karena sang adik lahirnya di Tasikmalaya.
Mendengar keterangan seperti itu Asep tidak mau bertindak gegabah. Ia memilih menghubungi Tim Identifikasi Satreskrim Polres Tasikmalaya Kota. Dia meminta agar mereka segera datang ke rumah sakit. Meski demikian, mayat itu tetap dimandikannya. Saat itu ditemukan bekas cekikan di tenggorokan dan sundutan puntung rokok di punggung. Hal itu menimbulkan kecurigaan begitu besar di benak Asep.
Tim Identifikasi Satreskrim Polres Tasikmalaya yang telah datang ke rumah sakit, lalu memeriksa Jat. Mereka mencecar pria berkulit gelap itu dengan beragam pertanyaan. Namun dengan tenang, Jat keukeuh mengaku bahwa dia adalah kakak ipar si mayat itu. ”Ngakunya dia kerja di sebuah perusahaan swasta,” ungkap Asep. Hingga kemudian, Senin malam, dia mengaku mencekik Rina hingga kemudian tewas. (rga/den)
Sumber : Radar Tasikmalaya
Sign up here with your email
ConversionConversion EmoticonEmoticon